A Spoiler-Full Novel – Review Novel ‘The House of the Spirits [Rumah Arawah]’ Karya Isabel Allende

Tags

, , , ,


image

Title : The House of the Spirits [Rumah Arawah]
Author : Isabel Allende
Publisher : PT. Gramedia Pustaka Utama
Year : 2010
ISBN : 978-979-22-5913-1
Page : 600
Genre : Drama, Magical Realism, Semi-Autobiography Fiction.
Format : Paperbacks

Saya tidak tahu pasti hubungan antara novel ini dengan novel sebelumnya yang saya baca, ‘The Various Flavours of Coffee’ atau versi terjemahannya ‘Rasa Cinta dalam Kopi’ karya Anthony Capella. Jelas ‘The House of Spirits’ lebih dahulu dibuat, namun selain itu banyak kesamaan yang terdapat di dalamnya. Kedua sama-sama menggunakan gaya penulisan alamiah yang mengalir tanpa ampun. Sebenarnya sangat masuk akal bila keduanya tidak berhubungan, walau nafas sejarah, budaya, elemen-elemen sosial dan politik, feminisme dan psikologi sangat kental terasa. Mungkin saja hanya kedua novel sealiran dimana gaya penceritaan juga mengingatkan saya dengan novel-novel Indonesia karya Pramoedya Ananta Toer.

Bila sudah membaca ‘The Various Flavours of Coffee’, sudah dapat dirasakan bagaimana isi dan ‘rasa’ novel ini. Semua karakter yang unik namun ‘cacat’, bahkan terutama para protagonisnya. Kesedihan, kegembiraan, kelucuan berhamburan di sepanjang cerita. Novel yang sebenarnya novel semi autobiografi ini semakin menekankan rasa alaminya. Tak heran ceritanya begitu mengena dan nyata, mengingatkan pula pada ‘Wild Swans’ nya Jung Chang, terutama karena menggunakan pendekatan penceritaan dan kisah antar generasi yang dimulai dari satu generasi dengan beragam permasalahnnya sampai generasi berikutnya yang memberikan novel ini cerita dan kisah yang hampir tak berkesudahan.

Aliran magical realism, dimana beragam kegiatan mistis dan supranatural digambarkan alamiah dan menjadi bagian hidup sehari-hari mengingatkan akan karya-karya ‘spiritualisme kritis’ Ayu Utami, terutama ’Simple Miracles: Doa dan Arwah’. Berpusat pada tiga generasi perempuan keluarga Trueba di sebuah negara Amerika Latin (kemungkinan Chile). Esteban Trueba, laki-laki pemimpin keluarga Trueba yang angkuh, pemarah dan penuh nafsu (kembali mengingatkan saya dengan Robert Wallis di ‘The Various Flavours of Coffee’ dan kegiatannya ke pelacuran) namun pekerja keras dan baik dalam bisnis yang menikahi Clara si cenayang yang karakternya penuh dengan rahasia, misteri dan terlalu kerap membuat pembaca gemas dan sebal karena perilakunya yang tak terduga. Clara lah yang menguatkan cerita dengan aura spiritual dan magis dimana ia membaca masa depan, berkomunikasi dengan arwah dan setumpuk aktifitas supranatural lainnya. Generasi berikutnya adalah Blanca, putri Esteban dan Clara. Si lembut namun pemberontak, dimana nafas Marxisme serta Sosialisme (yang memang kuat tertanam di banyak negara Amerika Latin) kentara ketika ia memiliki hubungan cinta dengan dengan putra mandor pekerja ayahnya serta membuahkan hasil cinta generasi ketiga Trueba, Alba. Ialah nanti yang menjadi ‘penutup’ cerita yang mendamaikan masa lalu dan masa depan yang terjalin padat dalam cerita.

Setiap membaca karya semacam ini, kita akan terus disuguhi dengan cara penulisan yang cepat dan semena-mena, persis seperti mendengar seorang teman pelaut atau pengembara yang bercerita mengenai pengalaman-pengalamannya. Allende, tanpa ampun membuat pembaca tertawa dan pada waktu bersamaan kecewa, karena tanpa ragu memberikan spoiler dalam setiap bagian cerita. Siapa yang akan mati kemudian, siapa yang akan menikah dengan siapa dan sebagainya, padahal sang karakter masih akan terus ada dalam cerita sampai kita lupa sama sekali. Walau pembaca dipaksa mengakui bahwa spoiler cerita di dalam cerita itu sendiri adalah buah karya pikiran magis Clara, tak pelak perasaan pembaca pun akan teraduk-aduk. Spoiler bertaburan bagai potongan coklat di atas es krim, mengganggu sekaligus indah. Kita seakan terlalu maju, namun kadang mundur jauh kebelakang ketika cerita dituturkan. Spoiler ini membuat cerita malah semakin menarik dan sekali lagi, alamiah. Hampir tidak memiliki plot yang dapat diterka, seperti kemalangan yang datang semaunya, namun kadang dirasakan dekat dengan kehidupan manusia. Sebuah karya yang luar biasa, patut dibaca seperti kita membaca garis hidup kita sendiri.